Muhammad Alghifari Aprian…

29 Okt

Tidak sadarkah kau.. makna dari namamu itu? Mungkin menurutmu itu simple, ada orang yang berkata.. Apalah arti sebuah nama,, tapi sadarkah kau.. bahwa hanya nama saja.. sudah berarti besar bagimu.. jika kau sadari.. Nama yan diberikan oleh Papa dan Mama.. ketika mereka berdua berbahagia,, atas kelahiran anak lelaki pertama dalam keluarga ini.. Harapan besar ada padamu.. Harapan papa,, mama,, dan orang-orang di sekelilingmu, Kedua kakakmu ini..

Biar kukutipkan cerita dibalik nama besar seorang Sahabat Rasulullah yang pemberani.. Abu Dzar Al Ghifari..

Abu Dzar Al-Ghifari – Sahabat dari Ghifar

Monday, 11 August 2008 09:12
Abu Dzar al-Ghifari merupakan seorang sahabat Nabi SAW yang terkenal dengan perbendaharaan ilmu pengetahuannya dan kesholehannya. Ali RA berkata mengenai Abu Dzar RA: “Abu Dzar ialah penyimpan jenis-jenis ilmu pengetahuan yang tidak dapat diperoleh dari orang lain.”
Ketika dia mulai mendengar khabar tentang kerasulan Nabi SAW, dia telah mengutus saudara lelakinya menyelidiki lebih lanjut mengenai orang yang mengaku menerima berita dari langit. Setelah puas menyelidiki, saudaranya pun melaporkan kepada Abu Dzar bahwa Nabi Muhammad SAW itu seorang yang sopan santun dan baik budi pekertinya. Ayat-ayat yang dibacakan kepada manusia bukannya puisi dan bukan pula kata-kata ahli syair.
Laporan yang disampaikan itu masih belum memuaskan hati Abu Dzar. Dia sendiri keluar untuk mencari kenyataan. Setibanya di Makkah, dia terus ke Baitul Haram. Pada waktu itu dia tidak kenal Nabi SAW, dan melihat keadaan pada waktu itu dia merasa takut hendak bertanya mengenai Nabi SAW. Ketika menjelang malam, dia dilihat oleh Ali RA. Oleh karena ia seorang musafir, Ali terpaksa membawa Abu Dzar ke rumahnya dan melayani Abu Dzar sebaik-baiknya sebagai tamu. Ali tidak bertanya apapun dan Abu Dzar tidak pula memberitahu Ali tentang maksud kedatangannya ke Makkah. Pada keesokkan harinya, Abu Dzar pergi sekali lagi ke Baitul Haram untuk mengetahui siapa dia Muhammad. Sekali lagi Abu Dzar gagal menemui Nabi karena pada waktu itu orang-orang Islam sedang diganggu hebat oleh orang-orang kafir musyrikin. Pada malam yang keduanya, Ali membawa Abu Dzar ke rumahnya.
Pada malam itu Ali bertanya: “Saudara, apakah sebabnya saudara datang ke kota ini?”
Sebelum menjawab Abu Dzar meminta Ali berjanji untuk berkata benar. Kemudian dia pun bertanya kepada Ali tentang Nabi SAW. Ali berkata: “Sesungguhnya dialah pesuruh Allah. Esok engkau ikut aku dan aku akan membawamu menemuinya. Tetapi awas, bencana yang buruk akan menimpa kamu kalau hubungan kita diketahui orang. Ketika berjalan esok, kalau aku dapati bahaya mengancam kita, aku akan berpisah agak jauh sedikit dari kamu dan berpura-pura membetulkan sepatuku. Tetapi engkau terus berjalan supaya orang tidak curiga hubungan kita.”
Pada keesokkan harinya, Ali pun membawa Abu Dzar bertemu dengan Nabi SAW. Tanpa banyak tanya jawab, dia telah memeluk agama Islam. Karena takut dia diapa-apakan oleh musuh, Nabi SAW menasehatkan supaya cepat-cepat balik dan jangan mengabarkan keislamannya di khalayak ramai. Tetapi Abu Dzar menjawab dengan berani: “Ya Rasullulah, aku bersumpah dengan nama Allah yang jiwaku di dalam tanganNya, bahwa aku akan mengucap dua kalimah syahadah di hadapan kafir-kafir musyrikin itu.”
Janjinya kepada Rasulullah SAW ditepatinya. Selepas ia meninggalkan baginda, dia mengarah langkah kakinya ke Baitul Haram di hadapan kaum musyrikin dan dengan suara lantang dia mengucapkan dua kalimah syahadah.
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu pesuruh Allah.”
Tatkala mendengar ucapan Abu Dzar itu, orang-orang kafir pun menyerbunya lalu memukulnya. Kalau tidak karena Abbas, paman Nabi yang ketika itu belum Islam, tentulah Abu Dzar menemui ajalnya di situ.
Kata Abbas kepada orang-orang kafir musyrikin yang menyerang Abu Dzar: “Tahukah kamu siapa orang ini? Dia adalah turunan Al Ghifar. Khafilah-khafilah kita yang pulang pergi ke Syam terpaksa melalui perkampungan mereka. Kalaulah ia dibunuh, sudah tentu mereka menghalangi perniagaan kita dengan Syam.”
Pada hari berikutnya, Abu Dzar sekali lagi mengucapkan dua kalimah syahadah di hadapan orang-orang kafir Quraisy dan pada kali ini juga ia telah diselamatkan oleh Abbas.
Kegairahan Abu Dzar mengucapkan dua kalimah syahadah di hadapan kafir Quraisy sungguh-sungguh luar biasa jika dikaji dalam konteks larangan Nabi SAW kepadanya. Apakah dia bisa dituduh telah mengingkari perintah Nabi? Jawabannya tidak. Dia tahu bahwa Nabi SAW sedang mengalami penderitaan yang berbentuk gangguan dalam usahanya ke arah menyebarkan agama Islam. Dia hanya hendak menunjukkan Nabi SAW walaupun ia mengetahui, dengan berbuat demikian dia melibatkan dirinya dalam bahaya. Semangat keislamannya yang beginilah yang telah menjadikan para sahabat mencapai puncak keimanan dalam alam lahiriyah serta batiniyah.
Keberanian Abu Dzar ini selayaknya menjadi contoh kepada umat Islam dewasa ini dalam rangka usaha mereka menjalankan dakwah Islamiyah. Kekejaman, penganiyaan serta penindasan tidak semestinya bisa melemahkan semangat mereka yang telah mengucapkan dua kalimah syahadah. BawahUmum(‘Sahabat’, ‘Abu Dzar Al-Ghifari – Sahabat dari Ghifar’, ‘Miftachul Arifin – Milis Padhang Mbulan’)

http://sd.binamuda.net/index.php?option=com_content&view=article&id=31:sahabat&catid=39:sejarah&Itemid=69

Abuzar Al Ghifari, Sahabat dari Suku Ghifar
Sabtu, 10 Mei 2008 12:49:00 – oleh : admin
(whandi.net) Sosok sahabat yang satu ini sudah menjadi penentang pemujaan berhala sejak sebelum ia mengenal Islam. Meski besar di kelompok yang memuja berhala, namun Jundub bin Junadah, yang biasa dipanggil Abuzar, sejak kecil selalu menolak menyembahnya. Pemuda yang berasal dari suku Ghifar di bukit Waddan, dekat kota Mekkah ini, menganggap pemujaan berhala merupakan kepercayaan yang tidak masuk akal.

Abuzar pertama kali bersentuhan dengan Islam ketika ia mendengar kabar bahwa di Makkah ada seorang pria yang mengaku dirinya adalah nabi. Ia berharap pria ini memang seorang nabi dan kedatangannya bisa mengubah hati, pikiran, dan kepercayaan sukunya dari kegelapan.

Ia kemudian meminta adiknya yang bernama Anis untuk segera pergi ke Makkah untuk mencari kebenaran berita itu. Sesuai permintaan Abuzar, Anis pergi ke Mekkah dan bertemu Rasulullah.

Setelah itu, ia pulang dan menyampaikan apa yang ia lihat dan dengar di Makkah. Ia menyebut kalau sosok yang ia temui adalah sosok yang rendah hati, bersahaja, dan kalimat yang meluncur dari mulutnya bukanlah puisi atau syair yang dibuat manusia.

Mendengar hal tersebut, Abuzar sangat tertarik dan memutuskan untuk melihat sendiri ke Makkah. Namun Anis memperingatkannya untuk berhati-hati terhadap orang Mekkah yang membenci pria bernama Muhammad itu.

Di Makkah, karena tak memiliki tempat tinggal, ia tidur di dekat Kabah. Suatu malam, ketika tengah tertidur, Ali ibn abi Talib berjalan melewatinya. Menyadari orang yang dilewatinya adalah orang asing, Ali lalu membangunkan dan mengajak Abuzar menginap di rumahnya.

Paginya ia bangun, lalu kembali ke dekat Kabah untuk mencari sosok sang nabi. Namun ia tidak berkata dan bertanya apapun kepada siapapun sehingga ia tidak bertemu Nabi Muhammad SAW.

Malamnya, Abuzar kembali tidur di dekat Kabah. Ali yang melihatnya kembali mengajaknya menginap di rumahnya. Meski demikian, keduanya tidak bercakap-cakap sedikitpun.

Baru pada malam ketiga, Ali bertanya kepada Abuzar soal alasannya datang ke Makkah. Abuzar berkata ia bersedia mengungkapkan alasannya asal Ali mmembawanya kepada orang yang ingin ia temui. Setelah Ali setuju, Abuzar berkata bahwa ia datang dari jauh dan ingin menemui sosok nabi yang dikabarkan ada di Makkah. Ia menyebut ingin bertemu dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh nabi tersebut.

Mendengar hal tersebut, seketika wajah Ali berubah menjadi cerah dan dipenuhi kegembiraan. Malam itu, Abuzar tidak bisa tidur karena kegembiraan dan rasa penasarannya yang luar biasa.

Pertemuan pertama itu terjadi di Makkah. Mendengar kisah Abuzar, Rasulullah kemudian membacakan beberapa ayat Alquran. Tidak butuh waktu lama untuk membuat Abuzar Al Ghifari membaca syahadat dan menjadi seorang Muslim.

Ia adalah salah satu sahabat yang pertama kali masuk Islam. Setelah itu, Abuzar menetap bersama Rasul di Mekkah. Ia belajar Islam dan Alquran dengan giat.

Khawatir dengan perlakuan orang Quraisy, Rasulullah meminta Abuzar untuk tidak mengumukan dirinya sudah menjadi seorang Muslim kepada orang Quraisy. Rasulullah khawatir Abuzar akan disiksa.

Namun dengan berani, Abuzar berkata, “Demi Allah yang ditangan-Nya nyawaku berada, aku tidak akan meninggalkan Makkah sampai aku pergi menuju Kabah dan menyatakan kebenaran kepada bangsa Quraisy.”

Di tengah kerumunan warga Quraisy di dekat Kabah, Abuzah berkata dirinya telah bersyahadat. Mendengar hal itu, orang Quraisy menjadi sangat marah. Mereka mulai memukuli Abuzar dan bermaksud membunuhnya.

Namun untunglah ada Abbas bin Abdul Muttalib. Abuzar pun segera dilindungi dan diselamatkan oleh paman Rasulullah itu.

Kepada orang Quraisy, Abbas mengatakan bahwa Abuzar berasal dari suku Ghifar yang daerahnya dilintasi kafilah dagang Quraisy. Karena takut dibalas, akhirnya orang Quraisy membebaskannya. Rasul kemudian meminta Abuzar kembali dan menyampaikan apa yang telah ia pelajari kepada sukunya. Abuzar kemudian kembali ke sukunya dan menemukan adiknya telah menjadi seorang Muslim juga.

Keduanya kemudian mengajak ibunya yang segera bersyahadat. Mereka tidak pernah berhenti menyebarkan Islam sehingga pada akhirnya, komunitas ini menjadi salah satu komunitas Muslim terbesar. Setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah, ia menyusul ke sana. Abuzar kemudian memperkuat pasukan Muslim dalam perang Badar, Uhud, dan Khandaq. Di Madinah, Abuzar meminta izin agar ia diperbolehkan melayani dan selalu menemani Rasulullah.

Setelah Rasulullah meninggal, Abuzar memutuskan untuk pergi dari Madinah. Ia merasa tidak ada lagi yang bisa ia lakukan di kota ini. Abuzar memutuskan pindah ke sebuah daerah di gurun kawasan Suriah. Ia tinggal disana selama masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Selama masa kekhalifahan Ustman bin Affan, Abuzar tinggal di Damaskus. Ia sangat perihatin melihat orang Islam yang senang dengan kehidupan duniawi dan senang hidup bermewah-mewahan. Sehingga kemudian ia dipanggil pulang ke Madinah oleh Usman.

Di Madinah, kritikannya tidak berhenti. Ia mengecam orang-orang yang menikmati kehidupan duniawi sehingga oleh Usman akhirnya ia diminta pindah ke Rubdhah, sebuah desa kecil di dekat Madinah. Ia hidup dalam kesederhanaan. Seorang pria pernah datang ke rumahnya dan bertanya kepada Abuzar tentang barang apa yang ia miliki. ”Aku memiliki rumah di akhirat, dan itu merupakan milikku yang paling berharga,” ujarnya. Abuzar bersikukuh hidup dalam kesederhanaan dan senantiasa berhemat atas apa yang ia miliki.

Suatu ketika, amir dari Suriah mengirimnya uang sebanyak 300 dinar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Abuzar kemudian mengembalikan uang tersebut dan menyatakan agar sang amir memberikannya kepada mereka yang lebih membutuhkannya daripada dirinya. Abuzar meninggal dunia pada tahun 32 Hijriah. Terhadap sosoknya yang luar biasa, Rasulullah pernah berkata seluruh bumi dan langit belum pernah ada orang yang begitu tulus dan setia daripada Abuzar Al Ghifari. (Republika/kebunhikmah)

http://whandi.net/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=2606

Abu Dzar Al Ghifari.. yaaa, sosok pemberani itulah yang menjadi inspirasi Papa dan Mama saat memikirkan baik-baik apa nama yang baik, doa yang baik, untuk seorang lelaki baru dalam keluarga ini..
Sosok pemberani dan tak gentar menegakkan kebenaran.. seperti itu pulalah harapan Papa dan Mama,, akan sikap, sifat, dan laku mu adikku…

Tidakkah kau sadar.. Kita mengemban nama dua orang yang Hebat, yang kasih sayangnya sungguh tak terhingga kepada kita semua,, permata hati mereka.. kemanapun kita melangkah..

Aprian.. Akhmad Supriadi – Dian.. Subhanallah,,, begitu mereka rela menyematkan nama mereka yang indah itu di belakang nama-nama kita,, tanpa mereka takut.. apakah nantinya kita akan menyalahgunakan kepercayaan mereka.. dan malah membuat nama-nama mereka tercoreng karena perbuatan seseorang yang namanya telah mereka lengkapi dengan nama mereka..

Giri.. yaa panggilan itu yang kemudian dipilihkan oleh Papa dan Mama.. Harapan akan sosok yang Kuat dan tak mudah tergentarkan.. kokoh pendirian,, meskipun banyak godaan dan cobaan melanda.. itu yang pasti mereka harapkan dari sesosok lelaki keluarga yang kemudian diharapkan dapat menjadi imam dalam keluarga..

Apakah telah kau lupakan mimpi – mimpi mereka???
Maafkan kakakmu ini,, yang mungkin tidak bisa secair Teh Desa, yang kaku.. cerewet.. tapi ketahuilah ini bentuk sayangku padamu..

Tidakkah kau menghadirkan Papa dan Mama di setiap langkah kakimu Gie?
Tidakkah kau memikirkan perasaan Papa dan Mama atas apa yang kau perbuat?
Yakinkah kau.. bahwa langkah dan usahamu saat ini telah cukup untuk membuat mereka bahagia??
Apakah kau merasa semua yang kau lakukan adalah benar?
Jika kau tidak lagi menghiraukan mereka berdua,, lantas apakah kau tetap menyadari bahwa ada Allah Yang Maha Tahu?? Dimanapun kau berada, selihai apapun kau bersembunyi.. sungguh Allah Maha Tahu?? Yang kecil berada dalam hati sekalipun?
Tidakkah kau tau, bahwa ridho Allah itu tergantung kepada ridho orang tua?
Lantas.. apakah selama ini kau merasa,, segala yang engkau perbuat telah ada ridhonya dari papa dan mama? Jika tidak ada ridho dari mereka,, lantas apakah bisa ridho Allah diraih??

Sampai kapan menunggu waktu untuk berubah? Sebegitu yakinkah kita.. Allah akan terus memberikan nikmat helaan nafas ini kepada kita.. Lantas bagaimana jika nikmat itu diambil? Apa yang bisa kita lakukan? Apa? Selain meratap menyesali apa yang telah kita perbuat saat kesempatan itu masih Allah berikan kepada kita…

Sahabat sejati dalam kubur adalah Amal, tak ada lagi.. yang menjadi bekal kita adalah amal.. tak ada lagi yang lain..

”Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya. dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya.” (QS. Al Fajr : 21-26)

Apakah kalam Allah tidak cukup membuat kita bergidik.. apakah kita telah siap menghadapNya.. apa yang telah kita miliki,, apa yang kita siapkan selama hidup di dunia yang fana ini? Apakah kita telah menyalahgunakan amanahNya kepada kita saat Allah memutuskan menjadikan manusia hidup di bumi ini..

Jangan melawan kata hati,, karena kata hati lah yang akan menuntun kita ke jalan kebenaran.. Tapi hati kita pun harus bersih,, agar jalan yang lurus lah yang akhirnya memberikan cahaya terang bagi kita untuk kemudian kita susuri…

”Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams : 8-9)

Sabda Rasulullah saw :

“Ketahuilah, sungguh pada tubuh itu terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, jika ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya, ketahuilah bahwa ia adalah hati” (Shahih Bukhari)

Dosa yang dilakukan oleh manusia membuat hatinya semakin kotor tertutup noda. Semakin banyak noda-noda dosa itu menempel di hati, semakin gelaplah dan semakin keraslah hatinya, bahkan kekerasannya lebih keras daripada batu.

Manakala seorang hamba melakukan dosa, maka menempelah pada hatinya setitik noda, dan manakala ia melakukan taubat maka lepaslah noda tersebut (Hadits)

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. (QS. Al Baqarah :74)

Semakin banyak noda yang menutupi hati, maka semakin sulitlah ia menerima petunjuk Allah. Dan kehidupan tanpa petunjuk Allah hanyalah kesesatan.

Aku berbicara bukan sebagai sosok yang sempurna.. aku berbicara seperti ini juga sekalian memberi peringatan pada diriku sendiri,, akan apa-apa yang telah aku perbuat selama ini.. Mari kita membuka pintu-pintu hati kita.. membersihkannya.. membuang segala kotoran dan noda dalam hati ini dengan istighfar.. Memohon ampunan kepada Allah.. untuk kemudian berazzam untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi…amin..

Harapan Papa, Mama besar sekali untuk mu, wahai Muhammad Al Ghifari Aprian.. apakah hanya tangis dan kekecewaan yang akan kau hadirkan untuk mereka..

Kau bisa berbuat lebih dari itu! Kita bisa berbuat lebih dari itu! Buktikan itu! Tidak hanya mimpi dan tekad sesaat… tapi selamanya! Jangan biarkan mereka menyesal atas setiap peluh yang menetes untuk memperjuangkan kehidupan terbaik untuk kita,, anak-anaknya..

Hadirkan mereka selalu dalam langkah, doa, dan pengharapan kita..

Semoga Allah kembali mempertemukan kita semua di Jannah Nya yang kekal, amin…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.